Kamis, 11 Oktober 2012

Polwan Tercantik di Jakarta (Foto)

Berita Aneh Tapi Nyata - Bila di Bandung ada polisi ganteng (Polteng), di Jakarta ada polisi-polisi cantik. Srikandi-srikandi di jajaran National Traffic Management Centre (NTMC) Polda Metro Jaya inilah yang mengabarkan arus lalu lintas Jakarta.


Cek kebenarannya di sini;

1.

Spoiler:
WEW !!
2.
Spoiler:
KOMPAK YOO..
3.
Spoiler:
NICE KK..
4.
Spoiler:
BIAR SAYA YANG BAYAR MAKANANNYA YE MBAK.. WKK
5.
Spoiler:
PEMIRSA.. ADMIN DI BERITA ANEH TAPI NYATA INI SANGAT KEREN.. TERIMA KASIH.
6.
Spoiler:
ADUHAYYY~
7.
Spoiler:
ABANG DISINI MBAK. BUKAN DISEBELAH SITU..
8.
Spoiler:
IDIH IDIHH..
9.
Spoiler:
MELAMUN NIYEE..
Oke itulah tadi foto-foto Polwan Tercantik di Jakarta. Semoga berkenan untuk Anda. Dan baca juga artikel-artikel lainnya dari kami. Terima Kasih.. Sebagai bonusnya, kami akan kasih foto di bawah ini. KLIK..
Spoiler:
syalalallaa..

Rabu, 10 Oktober 2012

Solusi Menangani Tetangga Yang Sombong


Apakah tetangga anda ada yang sombong atau berisik? Pasti ada donk..
Nah kali ini team kami telah mengutip satu foto dari Hs You Death dan akan memberikan solusi yang super lucu untuk menangani tetangga yang sombong dan berisik tersebut..

Ini dia,

Neighbor like that

Apakah anda berani melakukan hal diatas??

10 Pekerjaan Yang Paling Tinggi Kesabarannya

10. Kuli Bangunan

Kuli Bangunan merupakan salah satu dari daftar ini,ya pekerjaan berat dan penuh risiko ini sangatlah tidak sepadan antara porsi kerja dengan upah nya. Saat tahun 1998 sampai 2002 upah kuli bangunan hanya mencapai Rp20.000-50.000/hari. Belum lagi,mereka sering sekali mendapat tekanan dari para mandor-mandornya ataupun pemilik gedung yang tidak puas.

9. Pedagang Keliling

Ya,pedagang keliling memang salah satunya,pekerjaan yang cukup menguras tenaga karena harus berjalan-jalan berkeliling disekitar kota. Pekerjaan ini mengharuskan mencari untung sebanyak-banyaknya dengan usaha sendiri. Terkadang laku dan terkadang sepi tiada pembeli. Serta pintar-pintarnya pedagang meracik makanan.

8. Pembersih Kaca Gedung



Pekerjaan dengan resiko tertinggi yaitu menaikki kaca-kaca gedung pencakar langit dengan tenangnya demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta keluarganya. Pekerjaan ini sebenarnya setara dengan Office Boy,atau Cleaner.

7. Penyemir Sepatu

Penyemir sepatu merupakan pekerjaan yang dipilih oleh anak-anak kecil ketika mereka telah putus sekolah ataupun tidak mampu mengambil jalur pendidikan. Memang pada akhirnya pekerjaan ini adalah pekerjaan yang membutuhkan modal sedikit dengan penghasilan yang sedikit juga.

6. Tukang Kebun

Pekerjaan ini mengharuskan anda untuk merawat kebun dengan indah dan terawat. Majikan akan selalu bilang "Jangan sampai satu pun bunga-bunga saya yang indah ini rusak kalau kau tidak mau kupecat!". Kita tidak tahu kapan hewan pemakan tumbuhan/bencana lain akan tanaman tersebut bukan?

5. Penggali Kuburan

Serahkan pada mereka kalau soal menggali tanah!pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang memprihatinkan,dilihat dari upah mereka yang tidak menentu yang diberikan oleh orang yang bersangkutan dengan mayat yang akan dikubur ditempat itu.

4. Tukang Becak

Kendaraan minimalis paling bermanfaat dulu ini, sekarang sudah hampir dilupakan penggunaannya, di karenakan dilarangnya becak masuk ke jalan2 besar. Dan lagi Ojek menjadi salah satu pilihan transportasi masyarakat

3. Pembantu

Pekerjaan ini pekerjaan yang sangat berisiko bagi para perempuan. Kebanyakan perempuan desa merantau ke kota dan menjadi pembantu. Memang,gaji pembantu sekarang dapat dibilang cukup. Tapi,pekerjaan ini sprti ini lah yang sering masuk berita di TV. Banyak sekali mereka pembantu perempuan yang menjadi korban kekerasan,pemerkosaan,pelecehan,dll.

2. Supir Angkot




Supir Angkot namanya,adalah pekerjaan yang cukup aneh,mereka berani mengacuhkan polisi lalu lintas. Dengan santainya,mereka berhenti menurunkan penumpang dan menaikkan penumpang seenaknya di jalan mana pun yang hasilnya membuat macet dimana-mana. karena sering membuat kota yang sudah macet tambah macet dengan caranya bekerja.

1. Pemulung

Pemulung atau pemungut sampah memang pekerjaan yang buruk,tetapi apa daya karena tidak ada pekerjaan lain dan mereka harus memenuhi kebutuhan keluarganya. Ini juga salah satu pekerjaan yang dipilih oleh anak-anak yang putus sekolah dan kemudian ikut membantu Ayah/Ibunya untuk memungut sampah-sampah yang sangat banyak di Indonesia. Kemungkinan penghasilan perhari adalah Rp5.000-Rp50.000. Tidak banyak orang-orang yang mempedulikan pekerjaannya yang mulia ini.

Selasa, 09 Oktober 2012

Misteri Manusia Serigala (Werewolf)

Berita Aneh Tapi Nyata - Hai bro jumpa lagi ya, nah sekarang topik kita beralih kemakhluk jadi-jadian dan sejenisnya, bagaimana kita melihat transfigurasi seorang manusia menjadi manusia serigala/werewolf dan kenapa mereka sampai mengalaminya, apakah disengaja atau tidak, disini kita akan coba menelaahnya,  bukan begitu bro..seep, sekarang sebelum ada yang berubah wujud baiknya kita langsung aja ke artikelnya, okey bro. cekidot.

Kisah binatang jadi-jadian yang banyak terdengar dalam budaya masyarakat kita, ternyata juga terdapat di belahan lain bumi. Bahkan ada seorang tokoh dunia terkenal disebut pula sebagai salah satu pengidapnya. Benarkah makhluk demikian ada, bagaimana pula muasal kelahirannya?
 
Walaupun kedengarannya seperti sebuah kisah dalam film Holywood, namun, kisah mengenai manusia yang dapat berubah menjadi serigala dapat ditemukan di banyak negara di dunia.
Bahkan, kisah mengenai makhluk yang biasa dikenal dengan nama Werewolf atau Lycan ini bisa ditemukan di catatan-catatan Yunani kuno.

Begitu beragamnya manusia jadi-jadian di bumi ini. Mulai dari manusia harimau atau manusia beruang di kawasan Asia, manusia hyena yang hidup di Afrika, manusia anjing di hutan coyote dan diburu di Amerika Tengah, sedangkan manusia kadal terlihat berkeliaran di Selandia baru. 

Sama halnya dengan mitos babi ngepet atau leak dalam sebagian masyarakat kita, hingga orang Barat yang memfiksikannya dalam film semisal An American Werewolf in London (1981) dan Wolf (1994) yang diperani Jack Nicholson.
Ternyata semua binatang jadi-jadian itu memiliki karakter serupa. Misalnya, perubahan di malam hari, menularkan kemampuan berubah bentuk melalui tetesan darah dalam gigitan, luka yang terjadi dalam bentuk binatang juga muncul dalam wujud manusia, atau binatang jadi-jadian yang mati untuk segera kembali berubah jadi manusia.

Benarkah Manusia Serigala Akibat Dari kutukan?

Herodotus, sejarawan Yunani dari abad V SM, mengatakan pada kurang lebih  2.400 tahun lalu, bahwa penduduk di daerah yang sekarang bernama Lithuania dan Polandia, mengaku berubah menjadi manusia serigala selama beberapa hari dalam setahun.


Masa itu manusia serigala adalah manusia dengan dorongan kuat memangsa manusia lainnya. Melalui sihir mereka berubah menjadi serigala hitam untuk memudahkan mewujudkan niatnya. Sekali berubah, menurut kepercayaan lama, akan terus menyimpan kekuatan dan kelicikan serigala.

Baru di abad 1 SM Virgil sebagai penulis Latin yang pertama kali menyebut-nyebut soal takhayul ini, kemudian diikuti oleh Propertius, Servius, dan Petronius. Petronius yang kepala urusan hiburan zaman pemerintahan Kaisar Nero (54 – 68) bertutur tentang manusia serigala dalam bentuk sastra roman Satyricon. Dengan bumbu terang bulan, pekuburan, dan luka abadi setelah kembali jadi manusia, membuat roman itu sebagai bacaan hiburan.

Namun ada juga sebagian tradisi Roma dan Yunani menganggap manusia berubah jadi serigala sebagai hukuman dewa, karena ia telah mempersembahkan korban berupa manusia, seperti yang dikatakan Pliny seorang sejarawan masa itu (61 – 113).

Meski pada abad XVIII kisah tentang manusia serigala tidak lagi diterbitkan, bukan berarti orang berkurang minat terhadap manusia serigala. Justru kepercayaan itu demikian bertambah kuat, bahkan sering diterima sebagai kebenaran, bukan lagi sebuah fiksi.

Bagaimanakah Karakteristik Manusia Serigala?

Menurut legenda, pada saat bulan purnama, seorang manusia, dalam kondisi tertentu akan berubah menjadi serigala. Tubuhnya akan menjadi tinggi dan kuat. Matanya bersinar terang seperti hewan pada umumnya dan alisnya yang lebat akan bertemu di tengah. Mulutnya terlihat selalu kering, seperti orang yang kehausan.

Kulitnya kasar dan ditumbuhi bulu yang lebat. Telinganya berubah menjadi lancip seperti anjing dengan gelambir yang menggantung di lehernya. Bedanya dengan serigala asli,  manusia serigala tidak memiliki ekor.

Salah satu metode untuk mengidentifikasi manusia serigala/werewolf dalam rupanya sebagai manusia adalah dengan melukai tubuhnya. Jika ia adalah manusia serigala, maka di bagian tubuh yang terluka akan terlihat adanya bulu seperti serigala.

Cara lainnya, menurut legenda Rusia, seorang manusia serigala/werewolf dapat dikenali dengan adanya bulu di bawah lidahnya.

Walaupun dalam film-film Holywood disebutkan kalau manusia serigala/werewolf bisa dibunuh dengan peluru perak, karakteristik ini tidak bisa ditemukan di dalam legenda.

Bagaimana cara berubah menjadi Manusia Serigala/Werewolf
  
Di Italia, Perancis dan Jerman, disebutkan kalau seseorang dapat berubah menjadi manusia serigala/werewolf dengan cara tidur di luar rumah pada saat bulan purnama musim semi yang jatuh pada hari rabu atau jumat tertentu.


Lalu, ada juga yang percaya kalau seseorang bisa berubah menjadi manusia serigala/werewolf karena digigit oleh werewolf lain. Ini membuatnya menjadi sama seperti legenda Vampire. Ada lagi yang percaya kalau seseorang bisa berubah menjadi manusia serigala/werewolf karena dikutuk.

Tetapi, kebanyakan legenda percaya kalau transfigurasi seorang manusia menjadi werewolf terutama diakibatkan oleh kegiatan yang berhubungan dengan aktifitas satanic atau sihir.

Pandangan ini meluas pada abad pertengahan di Eropa yang diiringi dengan perburuan manusia serigala/werewolf, vampire dan penyihir. Di Perancis sendiri, antara tahun 1520 hingga tahun 1630, ada sekitar 30.000 orang yang ditangkap karena dianggap sebagai manusia serigala/werewolf. Kebanyakan dari tersangka ini kemudian menjalani penyiksaan dan interogasi yang keji hingga tewas.

Walaupun sering dianggap sebagai aktifitas satanic, ada sebuah kisah yang cukup membingungkan.

Pada tahun 1692, seorang pria berusia 80 tahun yang bernama Thiess dari Livonia memberikan kesaksian di bawah sumpah kalau ia dan beberapa teman lainnya adalah werewolf yang disebutnya sebagai "Anjing pemburu Tuhan".
Ia mengklaim kalau mereka adalah perajurit yang diutus Tuhan untuk memburu para penyembah setan dan para penyihir. Thiess juga mengatakan kalau kelompok werewolf seperti dia juga terdapat di Rusia dan Jerman.
Kesaksian Thiess dianggap sebagai penghujatan terhadap Tuhan dan ia dihukum 10 kali cambukan karenanya

Menurut kepercayaan lama ada tiga macam manusia serigala. 

Pertama, yang memperolah kemampuan itu melalui keturunan. Konon, kutukan terhadap nenek moyang menjadikan setiap keturunannya menjadi manusia serigala.
Kedua, orang yang dengan sukarela jadi manusia serigala dengan alasan dan tujuan jahat.
Sedangkan yang terakhir adalah manusia serigala berhati lembut dan baik. Kondisinya yang tidak lazim, malah membuatnya merasa malu.


Sebenarnya, transformasi sering dilakukan oleh dukun-dukun suku tertentu dengan tujuan baik untuk mengatasi masalah di kelompoknya. Saat langka makanan, misalnya, si dukun bisa saja berubah wujud menjadi binatang jadi-jadian serupa makhluk yang akan diburu, supaya lebih mudah melacak buruan itu.
Ada juga yang tidak berubah wujud tetapi meminjam tubuh binatang untuk memata-matai, menyantet, atau sekadar untuk menakut-nakuti musuh.

Penjelasan Alternatif Tentang Manusia Serigala

Sepertinya sulit mengabaikan keberadaan makhluk ini. Jika manusia serigala hanyalah sebuah cerita rakyat, dongeng atau rekaan Holywood, mengapa kisah penampakan makhluk ini bisa tersebar ke seluruh dunia sejak ribuan tahun yang lalu?

Dan jika kisah werewolf baru muncul beberapa puluh tahun belakangan, mungkin kita bisa berargumen kalau televisi dan media yang telah menyebarkannya. Tetapi, sepertinya setiap wilayah di dunia, punya kisah manusia serigala/werewolfnya masing-masing.

Jadi, apakah makhluk yang disebut manusia serigala/werewolf benar-benar ada?
Sebelum masuk ke situ, mungkin ada baiknya kita melihat beberapa teori alternatif yang berusaha menjelaskan mengenai makhluk ini.

Teori alternatif ini dibuat berdasarkan premis kalau tidak ada manusia yang bisa berubah menjadi serigala. Yang ada adalah salah interpretasi atau cerita hiperbolik yang diceritakan secara turun-temurun.
Ini adalah beberapa diantaranya:

Kanibalisme Manusia Berjubah kulit serigala

Kasus manusia serigala yang mencolok terjadi di Prancis, awal abad XVII. Adalah Jean Grenier (13) yang merasa yakin dirinya manusia serigala. Di pengadilan Bordeaux, Grenier mengaku, 2 tahun sebelumnya membuat perjanjian dengan setan di hutan. Dengan kulit serigala yang menurut pengakuannya pemberian setan, tiap malam ia bisa berkeliaran sebagai serigala, namun di siang hari kembali ke bentuk manusia. Ia telah membunuh dan memangsa beberapa anak kecil yang sendirian di ladang, juga menculik bayi yang ditinggal di rumah.


Sejauh menyangkut perilaku kanibalisme, penyelidikan menunjukkan kebenaran pengakuannya. Namun dari sudut kedokteran, remaja ini digolongkan penderita lycanthropy. Kelainan jiwa ini menyebabkannya berkhayal tubuhnya berubah bentuk menjadi hewan. Namun karena menilik usianya yang masih belia, Grenier cuma dihukum kurungan seumur hidup di Biara Fransiskan, Bordeaux.

Perubahan Grenier dengan menyamar di bawah kulit serigala serupa dengan cara transformasi manusia beruang di Skandinavia yang menggunakan kulit beruang. Selain kulit binatang, konon ada alat lain, yaitu korset. Ada yang terbuat dari kulit asli binatang, ada yang dari kulit manusia yang dihukum gantung. Dua alat itu banyak dipakai di Prancis, Jerman, Skandinavia, dan beberapa negara Eropa Timur. “Benda sakti” lainnya adalah salep khusus berisi ramuan dari kelompok tanaman “solanaceae” yang membangkitkan halusinasi.

Selain itu ada lagi alat dan cara untuk bertransformasi yang berupa jimat, ramuan, dan mantera pemujaan pada iblis. Khusus pemakaian jimat, justru orang di sekitar si pemakai yang terpengaruh seakan-akan melihat manusia serigala, padahal si pelaku tidak berubah. Di luar saat bulan purnama, perubahan sering terjadi spontan dan lepas dari kendali pelakunya.

Penampilan si pelaku yang menakutkan, tindak kejahatannya yang mengerikan, dan terutama karena kengerian terhadap kekuatan setan, membuat manusia serigala jadi obyek yang harus diburu dan dimusnahkan. Penghukuman terhadap mereka terjadi di hampir sepanjang sejarah di Eropa. Malah pelaku kejahatan apa pun dengan mudahnya dapat dijuluki manusia serigala.

Pembunuhan massal sering disebut akibat kejahatan manusia serigala. Seperti yang menimpa Peter Stubbe di tahun 1590 (ada yang menyebut Peter Stump di tahun 1589) dari Bedburg, dekat Cologne. Ia dituduh sebagai serigala yang kanibal setidaknya pada dua pria, dua wanita hamil, dan tiga belas kanak-kanak, dan inses dengan adik perempuannya.

Hukuman yang diterimanya luar biasa. Setelah dicabik-cabik dengan penjepit, dilindas roda, dipancung, akhirnya tubuh tanpa kepala itu dibakar. Hukuman bakar hidup-hidup ternyata juga diberlakukan untuk gundik dan anak perempuannya.

Di Prancis dan Jerman, manusia serigala biasanya memang dibakar atau digantung. Seperti yang terjadi terhadap lebih dari 200 laki-laki dan perempuan Pirenea (antara Prancis dan Spanyol) di seputar abad XVI, karena diduga manusia serigala/werewolf.

Menurut Elton B. McNeil dalam The Psychoses (1970), demam berburu manusia serigala bisa disamakan dengan perburuan terhadap penyihir. Secara kejiwaan mereka yakin, orang akan diberkati bila ia mampu menangkap pelayan atau sekutu iblis.
Tak heran, saat itu di Prancis banyak ditemukan manusia serigala kagetan. Dalam satu periode – antara 1520 – 1630 – di Prancis tercatat 30.000 kasus manusia serigala.

Ada beberapa patokan untuk menentukan apakah seekor serigala jadi-jadian atau tidak. Konon, manusia serigala akan mempertahankan suara dan mata manusianya. Sedangkan menurut suku Indian, yang berubah jadi serigala hanya bagian kepala, tangan, dan kaki.

Dalam ujud manusia, ada beberapa ciri khas yang membedakannya dengan manusia biasa. Dua ujung alisnya saling bertemu di tengah, jari-jari tangannya yang panjang agak kemerahan, dengan jari tengah yang sangat panjang. Selain telinganya agak ke bawah dan sedikit ke belakang, tangan dan kakinya cenderung berbulu lebat.


Rasa takut terhadap manusia serigala lebih mudah dipahami dengan mengetahui alasan takut terhadap serigala. Sebelum abad XX di Eropa dan Asia Utara, serigala dianggap binatang paling cerdik yang berbahaya bagi manusia dan ternak. Apalagi bila serigala itu gila. Cukup sekali gigit korbannya bisa tewas mengerikan. Sampai-sampai ada institusi pemerintah Prancis yang khusus mengontrol serigala, paling tidak sejak pemerintahan Charlemagne (768 – 814), hingga abad ini.

Di Eropa pada abad pertengahan, serigala terkadang digantung bersebelahan dengan pelaku kejahatan di tiang gantungan, sebagai simbol ditaklukkannya kejahatan. Serigala pernah jadi masalah serius Irlandia abad XVII, sehingga sepotong kepala serigala sama nilai hadiahnya dengan kepala pemberontak.

Manusia Serigala Hanyalah halusinasi?

Ada pendapat, manusia serigala timbul akibat halusinasi. Antara lain, pengaruh racun ergot yang dihasilkan oleh jamur “Claviceps purpurea” pada gandum. Ergot mengandung bahan serupa materi mentah untuk membuat LSD.

Halusinasi akibat ergot banyak terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Itu tak lain karena masyarakat kebanyakan hanya bisa mengkonsumsi biji gandum yang terkontaminasi, sementara gandum bersih disimpan hanya untuk bangsawan. Maka, tanpa pengalaman atau ilmu sihir, bila memakan biji-bijian itu orang bisa merasa jadi katak atau serigala.

Satu kisah tragis terjadi tahun 1951 di Pont St Esprit di Rhone Valley, dengan korban keracunan ergot +300 orang. Lima orang mati, sedangkan kebanyakan cacat seumur hidup. Mereka yang cacat mengaku, telah mengalami halusinasi mengerikan. Ada pria yang merasa seolah-olah otaknya dilahap segerombolan ular merah. Ada pula yang sanggup membebaskan diri dari jaket pengikat orang gila sampai 7x, namun rontok giginya karena menggigit putus tali pengikat dari kulit yang membelenggunya, dan yang tidak kalah unik mereka mampu membengkokkan dua batang teralis besi di jendela rumah sakit! Alasannya, pria itu merasa dikejar-kejar harimau.

Pendapat lain menduga manusia serigala adalah akibat persepsi keliru terhadap penyakit keturunan congenital porphyria. Menurut dr. Lee Illis dari Guy Hospital, London, pengidapnya amat tak tahan terhadap cahaya (karena itu mereka hanya bisa keluar malam hari), giginya berwarna merah atau coklat kemerahan, dan menunjukkan gejala gangguan jiwa (dari histeris ringan hingga depresi maniak). Akibat borok pada luka lambat laun mengubah bentuk tangan mereka menjadi serupa cakar.


Namun, pendapat ini disanggah cendekiawan Almotarus, yang menjelaskan manusia serigala dalam bentuk manusia memiliki ciri khusus berupa mata cekung dan kering, serta kulit pucat. Selain itu luka pada kulit penderita jauh berbeda dengan kulit serigala.

Roh jahat dalam perjalanan astral yang merasuki Manusia Serigala

Pemahaman terhadap manusia serigala memasuki era baru menyusul keputusan terhadap Jean Grenier. Hakim-hakim di masa itu tidak mungkin lagi mengabaikan “koor” pendapat para dokter, yang yakin manusia serigala sebenarnya adalah penderita berbagai jenis dan tingkatan gangguan jiwa. Meski dokter Alfonso Ponce de Santa dari Spanyol masih menyebutnya sebagai gejala kemurungan jiwa akibat cairan tertentu yang dihasilkan empedu, yang diduganya telah menyerang otak.

Maka untuk memudahkan dibedakanlah antara makhluk mitos manusia serigala dan penderita kejiwaan (lycanthrope).
Lycanthropy berakar dari kata Yunani lycos artinya serigala dan anthropos atau manusia. Meski ada yang menyebut secara berbeda. Robert Burton dalam buku pengobatan klasik The Anatomy of Melancholy (1621) misalnya, menggunakan istilah kegilaan terhadap serigala.

Mula-mula lycanthrope dipakai untuk menggambarkan fenomena kuno berupa kemampuan orang bermetamorfosis jadi binatang. Namun lama-lama istilah itu diaplikasikan khusus untuk orang yang di alam subnormal yakin mampu berubah bentuk. Keyakinan itu dikuatkan dengan dorongan bersikap sadis dan obsesi terhadap darah dan daging yang terus bertahan dari waktu ke waktu di berbagai tempat – bahkan di negara beradab. Selera terhadap daging manusia itulah yang mengubah manusia menjadi monster. Namun secara nyata penderita lycanthrope tidak pernah berubah bentuk, suara, dan perilaku menjadi serigala.

Mengenai penampilannya yang tetap manusia, pada abad XV – XVI penderita lycanthrope berkilah, bahwa bulu-bulu mereka tumbuh di bawah kulit. Seperti yang terjadi di Padua, Spanyol, tahun 1541, ketika seorang petani dengan keji membunuh dan mengoyak-ngoyak tubuh beberapa orang korbannya. Saat tertangkap, ia mengaku sebagai serigala meski secara fisik tidak berujud binatang. Itu tak lain karena bulu-bulunya tersembunyi di bawah, bukan di atas, kulit. Untuk membuktikan ucapannya, penduduk segera memotong lengan dan kakinya. Alhasil, kekecewaan yang didapat, karena yang ada cuma darah, otot, dan tulang biasa.

Malah dalam buku klasik tentang sadisme, masokisme, dan lycanthropy Man into Wolf, antropolog Inggris Dr. Robert Eisler menyebut kemungkinan Adolf Hitler sebagai penderita lycanthropy. Ia merujuk pada kesaksian bagaimana sang Fuhrer memiliki kebiasaan menggigit karpet saat mengamuk.

Sedangkan manusia serigala/werewolf adalah orang yang dengan kekuatan sihir atau mantera khusus dipercaya mampu mengubah diri menjadi serigala. Ia benar-benar serupa serigala baik keganasan, kekuatan, kelicikan, dan kecepatan larinya. Ia bisa bertahan dalam kondisi itu selama beberapa jam saja atau bahkan permanen.

Pendapat yang menguatkan keberadaan manusia serigala didukung oleh spiritualis Rose Gladden dengan dasar pemikiran perjalanan astral. “Katakanlah ada orang yang pada dasarnya jahat, suka dengan hal-hal yang mengerikan. Saat ia melakukan perjalanan astral, roh jahat yang banyak berkeliaran bebas di udara akan menangkap, mengubahnya menjadi serigala atau binatang lainnya, dan memanfaatkannya untuk tujuan keji.”
Mungkinkah Faktor Penyebab Utama Karena Dorongan bebas nilai?
 
Lain lagi pendapat paranormal terkemuka Prancis pada abad XIX Eliphas Levi, bahwa proses transformasi itu adalah suatu manifestasi simpati manusia terhadap naluri kebinatangannya. Menurutnya, manusia serigala tidak lebih dari tubuh nonfisik dan naluri ganas berbentuk serigala.

Senada dengan itu, John Godwin, penulis Unsolved: The World of the Unknown, lebih menyoroti dorongan dalam diri manusia. Jujur saja, sebenarnya manusia memiliki sifat buruk serupa serigala yang selama ini ditekan untuk tidak muncul. “Dengan berubah, mereka bebas dari wujud fisik manusianya yang mengalangi mewujudkan dorongan dan keinginan kuat tanpa perlu merasa bersalah atau takut. Dalam wujud binatang, tidak ada lagi tabu yang harus dijaga. Karena binatang memang tidak mengenal tabu.”


Sedangkan James VI dari Skotlandia dalam Daemonologie (1597), melihat penyebabnya adalah segunung masalah yang dihadapi manusia mulai dari bencana alam dan cuaca buruk, gagal panen, serangan hama, dan kejahatan yang meningkat. Semua itu perlu seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Gampangnya, serigala dijadikan kambing hitam. Selain itu adalah ketidaksiapan penduduk untuk melepaskan kepercayaan atas makhluk sejenis itu membuat manusia serigala terus eksis dalam waktu lama.

Richard Carrington, penulis Mermaids and Mastodon menyamakan alasan di balik kepercayaan akan manusia serigala dengan kepercayaan primitif, bahwa monster sebenarnya bentuk yang diciptakan manusia sendiri, untuk mengkompensasikan posisinya sendiri yang demikian kecil di alam semesta.

Saat peradaban makin maju, mitos binatang menakutkan pun lenyap. Contohnya, suku Indian Sioux di Dakota Utara, AS, yang dulu percaya akan adanya binatang pemangsa manusia. Tapi, keturunannya di abad ini melupakan mitos itu. Menurut mereka, takhayul itu lahir akibat rasa takut terhadap mastodon yang berkeliaran di dataran Dakota.


Jadi apakah makhluk ini berasal dari aktivitas sihir?

Ataukah makhluk ini seekor cryptid yang belum dikenal?

Namun, pertanyaan terpentingnya adalah, apakah manusia bisa berubah menjadi hewan?

Jika semua teori di atas tidak bisa menjelaskannya, maka saya rasa, jawaban paling "masuk akal" adalah: Manusia Serigala/Werewolf memang ada dan ya, manusia bisa mengalami transfigurasi menjadi hewan dengan melakukan sihir tertentu.

Tapi, jika kalian tidak mempercayai adanya sihir yang bisa menyebabkan seorang manusia mengalami transfigurasi menjadi hewan, maka saya tidak punya teori lagi untuk dikemukakan.

Karena itu pendapat mengenai manusia serigala/werewolf hanya takhayul belum mencapai kata putus. Jika benar itu sekadar ciptaan manusia, mengapa kisah itu bertahan sekian lama? Apa pula yang membuat sejarawan/ilmuwan demikian getol berkutat memecahkannya?

Bagaimana bro, kalian percaya dengan keberadaan Manusia Serigala atau Werewolf?

Senin, 08 Oktober 2012

Paku Juga Bisa Romantis Lho..


Berita Aneh - Ada banyak cara manusia mengungkapkan sebuah perasaaan, dari hal-hal yang umum sampai yang tidak terduga. Dan kita bisa memasukkan media paku sebagai ungkapan perasaan manusia dalam kategori tak terduga.

Meski paku yang kita kenal sangat kaku, tapi dengan sedikit membengkokkannya dan meletakkannya pada media yang tepat, akan menghasilkan sejumlah pemandangan mengejutkan yang mencakup berbagai emosi dan perasaan yang dirasakan oleh manusia.

Bagaimana pemandangan paku merasa sedih, senang, dan menyentuh, semua itu terangkum dalam Paku Juga Bisa Romantis Lho! Sebuah Ungkapan Perasaan Manusia melalui seni paku berikut. Enjoy!

Spoiler:

Spoiler:

Spoiler:

Spoiler:

Minggu, 07 Oktober 2012

membincang seputar "tahlil"


Sebagai warga NU kita mengetahui banyak aktifitas ritual ibadah seperti tahlil, fida’an, ziarah makam, tawasul, mauludan, nuzulul Qur’an dll, sudah menjadi aktifitas keseharian di kalangan Nahdliyyin. Namun di tengah-tengah masyarakat Nahdliyyin sendiri ternyata masih ada yang tidak mengerti dasar hukumnya, baik dari Al Qur’an atupun AL Hadits yang menjadi landasan dari semua aktifitas ibadah tersebut. Sehingga tidak menutup kemungkinan adanya kegamangan untuk melaksanakannya sebagai aktifitas ibadah yang benar-benar mendapat legitimasi dari syara’. Dan juga adanya kemungkinan keyakinan kita akan keabsahan aktifitas ibadah tersebut akan goyah karena adanya pihak-pihak tertentu yang menuduh ritual-ritual ibadah kita di atas merupakan bid’ah yang sesat.
Dari permasalahan tersebut, kita dituntut untuk mempelajari dan mengetahui dasar-dasar hukum baik dari Al Qur’an atau Al Hadits yang menjadi landasan ritual-ritual ibadah warga Nahdliyyin agar kita dapat melaksanakan aktifitas ibadah yang telah disebutkan di atas dengan mantap tanpa sedikitpun adanya keraguan.

TAHLIL
A. Devinisi Tahlil
Devinisi bahasa, terma tahlil yang berasal dari gramatika arab berupa shighot masdar dari fi’il madly hallala yang berarti membaca kalimat tayyibah la ilaha illallah.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya di Negara Indonesia khususnya, tahlil dikonotasikan sebagai ritual keagamaan yang memuat susunan literatur ayat-ayat al Qur’an, dzikir,guna mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia. Penyematan rangkaian dzikir dengan istilah tahlil ini sesuai dengan kaidah gramatika arab berupa dzikru al-juz wairodatul kull(menyebutkan sebagian isi dan menghendaki keseluruan)
Tahlil biasanya di baca saat berziarah ke pekuburan, saat kematian seseorang, atau di berbagai even-even keagamaan seperti pengajian, selamatan dll. Kususnya di tanah jawa, pembacaan tahlil ditradisikan oleh komunitas masyarakat dan di Realisasikan pada setiap malam jum’at yang bertempat di rumah-rumah penduduk secara bergiliran.
Tradisi tahlil agaknya telah mengakar kuat dalam lubuk hati masyarakat muslim jawa. Terbukti dalam setiap acara-acara keagamaan. tahlil selalu menjadi konsumsi menu utama dalam berbagai rangkaian even acara. Meski demikian kita perlu mengetahui secara kongkrit problematika tahlil ini. Baik dari sejarah penyusunannya, hukum membacanya, ataupun tendensi pengambilan hukumnya. Mengingat begitu maraknya berbagai komunitas muslim yang berasumsi bahwa tahlil termasuk bid’ah dan perbuatan dosa yang menyebabkan kufur.
B. Sejarah Asal Mula Munculnya Tahlil

Jika kita melihat historis yang telah ada, sebenarnya Tahlil sudah ada pada saat zaman nabi Muhammad SAW, terbukti dengan adanya ungkapan tersebut, hanya saja tidak tersusun rapi sebagaimana saat ini, yang telah dianggap oleh kebanyakan manusia buta sebagai bid’ah dlolalah, terutama oleh golongan non NU. Tahlil yang biasa kita lakukan dengan tujuan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia, sebenarnya bermula dari perjuangan sunan-sunan Walisongo, yang mana pada saat itu adat istiadat orang jawa, ketika ditinggal mati oleh sanak keluarganya dilakukan ritual selama tujuh hari berturut-turut dan hari ke empat puluh setelah kematian, mereka (orang jawa ) mempercayai bahwa ritual ini dapat menebus dosa-dosa mayyit atau paling tidak bisa menambah kebaikan-kebaikannya. Dari latar belakang semacam inilah, maka sunan-sunan WaliSongo tergugah untuk merubah adat istiadat mereka dengan ritual yang Islami, hanya saja oleh beliau-beliau disadari bahwa adat semacam ini tidak mungkin dirubah secara total, karena kalau sampai dirubah secara total maka sudah bisa dipastikan bahwa orang jawa tidak mau mengikuti ajaran Walisongo, bahkan mungkin mereka akan melakukan tindak anarkis yang bisa membahayakn kelangsungan dakwah para Wali di tanah jawa ini, sebab selain mereka sudah sangat percaya dengan adat semacam ini, mayoritas orang jawa pada saat itu adalah abangan (manusia keras kepala dan anti agama). Maka muncullah satu pemikiran hebat dari sunan walisongo untuk memanfaatkan tujuh hari atau lainnya, dari apa saja yang telah mereka adatkan, dengan diisi tahlil bersama, sebagaimana yang telah kita rasakan saat ini kemanfaatannya, jadi jangan sekali-kali mempunyai anggapan bahwa tahlil hanya akal-akalan orang NU tanpa adanya tendensi (pegangan) hukum yang jelas.


C. Hukum Tahlil
Terkait pembacaan hukum tahlil, diperlukan berbagai tinjauan mengenai permasalahan-permasalahan yang terkait di dalamnya. Seperti hukum membaca dzikir, memintakan ampun bagi orang-orang yang telah meninggal dunia dan lain-lain. Berikut akan dibahas satu persatu beberapa tendensi dalil agar mendapat kesimpulan yang akurat dan jelas.
D. Membaca AL Qur’an Dan Dzikir
Membaca al Qur’an sangat di anjurkan agama. Dengan membacanya hati seseorang menjadi tenang, disamping itu al Qur’an merupakan petunjuk bagi umat manusia. Perintah membaca al Qur’an ini tertera dalam firman Allah swt.
“ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al Kitab (Al Quran) “(QS. Al Ankabut;45)
Bahkan membaca al Qur’an termasuk ibadah terbaik bagi umat Islam, sebagai mana sabda Rosulullah saw.
اَفْضَلُ عِبَادَةِاُمَّتِي قِرَاءَةُالْقُرْاَن
Yang paling utama dari ibadah umatku adalah membaca al Qur’an.(HR. Imam baihaqi). Sama dengan keutamaan al Qur’an pembacaan dzikir juga dikategorikan sebagai ibadah yang sangat di anjurkan oleh agama. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa firman Allah awt. Seperti berikut ini.
" Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang".)QS.al Ahzab:41-42)
“ Ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.”(QS. An Nisa’:103)
Dari berbagai dalil di atas, para ulama’ menyimpulkan bahwa membaca dzikir adalah sunnah, dengan metode dalam kondisi dan situasi apapun. Mengenai bentuk susunan dzikir dalam tahlil seperti yang telah kita kketahui, mu’tamar jam’iyyah thoriqoh di madiun memutuskan bahwa penyusun bacaan tahlil adalah Syeh al Barzanji. Pernyataan ini bertendensi pada sanad tahlil yang diterima beberapa ulama dari Syeh Yasin al Fadany al Makky dengan rangkaian sanad sampai imam al Barzanji.
Susunan dzikir dalam tahlil sebagaimana yang telah kita ketahui tidak mempengaruhi hukum asalnya, yakni sunnah. Begitu pula metode pelaksanaan dzikir, baik sendirian maupun kolektif. Bahkan membaca dzikir bersama-sama bisa memberi pengaruh baik pada hati, dan membuka penghalang kalbu.
Metodologi al Ghozali, dzikir dimetaforkan sebagaimana adzan, maksudnya semakin banyak orang yang mengumandangkannya, semakin menggema pula seruan Allah swt di cakrawala, dan hati manusia yang lupa semakin mudah tergugah. Demikian komentar al Ghozali yang dikutip oleh syeh Ibn ‘Abidin dalam kitab beliau. Terdapat berbagai dalil yang menjelaskan keutamaan dzikir secar kolektif, salah satunya hadis shohih yang diriwayatkan oleh imam Muslim:
لاَيَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللهَ عَزَّوَجَلَّ اِلاَّحَفَّتْهُمْ اَلْمَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمْ اَلرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah berkumpul sekelompok orang sambil berazikir kepada Allah kecuali mereka akan dikelilingi para malaikat, Allah swt melimpahkan rahmad kepada mereka, memberikan ketenangan hati dan Allah swt menyebut mereka dihadapan para malaikat yang berada di sisinya” (HR riwayat Muslim).
E. Mendoakan Orang Setelah Meninggal Dunia
Sebagimana keterangan di atas, misi utama membaca tahlil adalah mendoakan orang yang telah meninggal dunia dan memohonkan ampun atas orang-orang yang telah meninggal dunia dan memohonkan ampun atas dosa mereka. Para ulama mencetuskan tradisi tahlil ini bukannya tak berdasar. Banyak tendensi yang mendasari inisiatif mereka, berbagai tendensi dalil yang melandasi pencetusan ritual ini adalah.
Pertama, firman Allah swt.dalam al Qur’an karim
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka(muhajir dan Anshor) mereka bertanya: Ya Alloh, berilah ampunan pada kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami (QS. Surat al Hasyr”10)
Kedua hadis dari sayyidina Usman bin ‘affan ra. Yang artinya “ Dahulu setelah mayyit dikebumikan, Rasulullah berdiri di depan makam dan bersabda
اِسْتَغْفِرُوْلِاَخِيْكُمْ وَسَلُوْ لَهُ بِالتَّثْبِيْتِ فَاِنَهُ اَلاَنَ يُسْاَلُ
“Mintakan ampun bagi saudara sekalian ini, dan berdoalah agar ia di teguhkan (dalam menjawab pertanyaan malaikat) karena saat ini ia sedang ditanya . (HR.Dawud).
Anjuran dan perintah Hadist di atas sekaligus mendasari pendapat para ulama yang menyatakan bahwa pahala dan doa yang dikirim dan dihadiahkan kepada mayat bisa bermanfaat baginya. Sebab tidak mungkin Allah swt dan Rasulnya menganjurkan sesuatu bila tidak ada manfaat didalamnya.
Selain dalil-dalil diatas, terdapat beberapa literal ayat Al Qur’an yang menerangkan bahwa do’a sebenarnya dapat membawa pengaruh positif dan manfaat baik bagi dirinya sendiri atau orang lain.
" Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal."(QS.Muhammad.19)
" Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".(QS.Ibrohim.41)
Sedang mengenai membaca al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayat, ada beberapa dalil yang mendasari hal ini di antarnya
Sabda rosulullah dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah.
اِقْرَؤُوْا يَس عَلَى مَوْتَاكُمْ
“Bacalah surah Yasin kepada orang yang meninggal dunia diantara kalian.(HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).
وَىَس قَلْبُ الْقُرْانِ لاَيَقْرَؤُهَارَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ تَبَرَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَالاَخِرَتَ اِلاَّغُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ
Surah Yasin adalah jantung al Quran tidaklah seseorang membacanya karena mengharapkan (keridloan) Allah tabaroka wataala dan negeri akherat, melainkan Allah swt mengampuninya. Dan bacakanlah orang-orang yang meninggal dunia di antara kalian. (HR. Ahman Bin Hambal)
Menurut syeh muhibbuddin at thobari, terma ‘ mautakum’dalam redaksi di atas dioreantasikan pada jasad seseorang yang kondisi ruhnya telah terpisah , lebih lanjut beliau berargumen bahwa mengartikan terma mautakum dengan arti orang yang akan meninggal dunia termasuk komentar yang tidak benar.
Berbeda dengan sayyid Zainal ‘abidin al Alawi al Husaini dalam kitab al ajwibah al-gholiyah fi ‘aqidah firqoh an najiyah. Beliau mengutip komentar para ulama muhaqqiqin yang menyebutkan bahwa hadits di atas bisa di artikan secara global, maksudnya berlaku bagi seseorang yang sedang dalam kondisi sekarat ataupun telah meninggal dunia
Berbagai hadits lainya menunjukkan bahwa menghadiahkan pahala do’a kepada seseorang yang telah meninggal dunia bisa memberi manfaat, di antaranya
“Barang siapa melewati kuburan dan membaca surat al Ikhlas sebelas kali kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang mati, maka ia akan diberi pahala sesuai jumlah orang yang meninggal.(HR. ad-Daruqutni).
“Sesungguhnya Allah meninggikan derajat seorang hamba yang sholih di surga. Ia bertanya ; wahai Tuhanku, bagaimana aku mendapatkan ini? Allah menjawab: Dengan permohonan ampun dari anakmu untukmu”(HR. Ahmad).
Demikian beberapa tendensi al Qur’an dan Hadits yang menjadi dasar mendoakan atau menghadiahkan pahala ibadah kepada seseoarang yang telah meninggal dunia. Dan masih banyak lagi tendensi dalil lain yang di ambil dari perkataan para ulama sebagai pewaris Rasulullah dan para sahabat.
Imam Abu Hanifah berkomentar:
“Barang siapa mengatakan pahala doa tidak sampai kepada mayyit maka ia telah merusak kesepakatan para ulama”.
Imam ibnu hajar berargumen
“Ulama sepakat mengenai sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal dunia. Begitu juga mengenai bacaan al Qur’an , doa, istighfar yang itu semua termasuk kategori shodaqoh.
Imam an Nawawi dalam kitab al Adzkar ikut berkomentar: ulama sepakat bahwa doa yang diperuntukkan pada orang yang wafat akan memberikan manfaat serta akan sampai pahalanya.
Kesimpulannya, bahwa membaca tahlil, mendoakan mayyit atau menghadiahkan pahala amal kebaikan untuk mayyit hukumnya diperbolehkan bahkan dianjurkan. Hal ini tidak lain karena pahala pahala yang dihadiahkan bisa sampai dan bermanfaat bagi mayyit.
Mengenai ayat dalam surah Al Baqoroh ayat 286 tidak boleh secara sembarangan mengartikan seperti apa adanya Dhohirun nas, namun karena ada sebuah Hadits yang yang secara tegas menyatakan bahwa manusia sebenarnya bisa mendapatkan amal kebaikan orang lain ketika orang lain meniru jalan kebaikan yang ia tuntunkan, ataupu dapat dosa orang lain ketika ada orang lain melakukan keburukan yang ia ajarkan Hadits tersebut adalah
“Barang siapa membuat jalan yang baik, maka baginya pahala atas apa yang ditempuhnya ditambah pahala orang-orang yang mengerjakannya. Dan barang siapa membuat jalan buruk, maka baginya dosa atas jalan yang ditempuhnya ditambah dosa orang-orang yang mengerjakannya sampai hari kiamat(HR. Bukhori)

F. Tanggapan atas beberapa dalil

Sebenarnya ada beberapa ayat yang kelihatannya kontradiksi dengan hujjah-hujjah di atas, namun perlu adanya kajian yang mendalam sehingga ayat-ayat yang kelihatannya kontradiksi tersebut menjadi selaras dengan pemahaman pembenaran atas sampainya pahala amal yang dihadiahkan kepada orang yang beriman yang telah meninggal. Biasanya ayat tersebut dipergunakan oleh orang non NU untuk mengkaim ritual NU sebagai tindakan TBC (tahayul, bid’ah dan churofat). Ayat-ayat tersebut adalah.
“ Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”(QS. An Najm ayat 39)
Jika dilihat secara tekstual ayat diatas mengandung arti bahwa manusia hanya memperoleh pahala amal kebaikan yang dilakukannya sendiri. Tidak mungkin mendapatkan balasan amal kebaikan orang lain. Pemahaman ini bertabrakan dengan pemahaman bahwa amal kebaikan bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Dari sini mari kita menelaah pemaparan syeh Sulaiman bin Umar al Ajily mengenai kisah Ibnu Abbas, seorang sahabat yang sewaktu kecil mendapat doa langsung dari Rasulullah
“Ya Allah !berilah ia (Ibnu Abbas) pengetahuan dalam agama dan berilah ia di pengetahuan tentang ta’wil” (HR. Ahmad)
Beliau menjelaskan, esensi firman Allah swt. Dalam surah An Najm ayat 39 telah direvisi. (di nasech) oleh firman Allah dalam surah At Thur ayat 21 yang menjelaskan bahwa seseorang bisa menerima kebaikan amal perbuatan yang dilakukan orang tua dan para leluhur mereka. Ayat tersebut adalah:
"Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?"(QS. At Thur ayat 21)
Lebih lanjut beliau menjelaskan korelasi hukum didalam surah An Najm ayat 39 di atas hanya berlaku pada masanya Nabi Musa dan Nabi Ibrahim saja, bukan pada era umat Muhammad saw. Pendapat serupa juga dikomentari oleh sahabat “Ikrimah , bahwa umat Muhammad saw akan mendapatkan manfaat kebaikan amal kebaikan yang dilakukannya sendiri maupun perbuatan orang lain yang dihadiahkan untuknya termasuk anak dan cucu bisa masuk surga lantaran kebaikan yang dilakukan orang tua mereka.
FIDA’AN
Fida’an termasuk istilah jawa yang diadopsi dari bahasa arab berupa kata fida diartikan dengan menebus, tebusan. Dalam fersi jawa khususnya fida’an populer sebagai tradisi keagamaan yang biasanya diisi bacaan dzikir dengan maksud menebus/membebaskan seorang (setelah meninggal dunia ) dari neraka. Biasanya dzikiran dalam even fida’an berupa kalimah toyyibah (la ilaha illallah) sebanyak 70.000 kali atau surah Al Ikhlas sebanyak 100.000 kali. Umumnya ritual keagamaan ini biasa dilaksanakan dirumah duka selama 7 malam pertama sejak kematian. Tendensi dalil terkait dengan ritual ini adalah hadits atsar riwayat syeh Abi Zait al Qurtubi yang dikutib syeh Abu Muhammad Abdullah bin As’ad al Yafi’i
سَمِعْتُ مِنْ بَعْضِ الْاَثَرِاَنَّ مَنْ قَالَ لاالهَ اِلاَّ اللهُ سَبْعِيْنَ اَلْفِ مَرَةٍ كَانَتْ فِدَاءَهُ مِنَ النَّارِ فَعَمِلْتُ عَلَى ذَالِكَ رَجَاءً بَرَكَةِ الْوَعْدِ اَعْمَاَ لاًاِدَّخَرَتْهَا وَعَمِلْتُ مِنْهَا لِاَهْلِى
“Aku mendengar dari salah satu atsar (Hadits sahabat nabi) sesungguhnya barang siapa membaca lailaha illallah sebanyak 70.000 kali maka bacaan tersebut akan menjadi tebusannya dari api neraka.( HR. al Qurtubi)
Sedangkan tendensi dalil terkait dengan ritual fidaan mengenai bacaan surat al ikhlas sebanyak 100.000 kali berupa hadits Rosulullah saw.
مَنْ تَلَى قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدْ مِائَةَ اَلْفِ مَرَّةٍ فَقَدِ اشْتَرَى نَفْسَهُ مِنَ اللهِ وَنَادَى مُنَا دًى مِنْ قَبْلِ اللهِ تَعَالَى في سمَوَا تِهِ وَفيِ اَرْضِهِ اَلاَ انَّ فُلاَنًا عَتِيْقِ اللهِ فَمَن لَهُ قَبْلَهُ تِبا عَةُ فلْيَآْخُذْهَا من اللهِ عزَّ وجلَّ
Barang siapa yang membaca surah al ikhlas 100.000 kali maka ia telah menebus dirinya dari Allah swt kemudian akan menggema seruan dari sisi Allah swt di langit dan di bumi,”Ingatlah sesungguhnya seseorang telah dibebaskan oleh Allah swt dari api neraka.maka barang siapa mempunyai hak atas orang tersebut, maka menuntutkah kepada Allah azza wa jalla.(HR. Al Bazzar dari anas bin Malik)
Meski kesahihan hadits pertama masih dianggap pro kontra lantaran imam al Qurtubi di anggap kurang membidangi ilmu hadits, namun sebagian pendapat menilai bahwa kualitas hadits di atas di anggap benar dan dapat diikuti. Penilaian ini bukannya tak berdasar, sebab hadits di atas juga tertulis dalam kitab al Maqosid al Hasanah fi al Hadits ad Diro’ah ‘ala al Alsinah karya Imam al Hafidh Syamsuddin al Sakhawi.
Salah satu ulama yang mendukung ideology ini adalah Ahmad bin Muhammad al Wayily dan Imam syaikhul Islam at Thanbadawi al Bakri. Didukung pula keterangan yang menyebutkan
من بَلَغَهُ عنِ اللهُ شيءٌ لهُ فِيهِ فَضِيلةٌ فآَخَذَهُ اِيمانًا به ورَجاءَ ثَوَا بهِ اَعْطَاهُ اللهُ عزَّ وَجلَّ ذلِكَ واِنْ لمْ يَكُنْ كذَالكَ
Barang siapa yang datang kepadanya dari Allah suatu amal yang mempunyai keutamaan , kemudian dia mengamalkan dengan mengimaninya dan mengharapkan limpahan pahalannya maka Allah swt akan memberikan apa yang dia harapkan walaupun sebenarnya suatu amal tadi sebenarnya tidak seperti itu. (HR. hasan ibnu Arofah).
Dari penjelasan di atas setidaknya dapat difahami bahwa ritual fida’ yang umumnya digelar masyarakat muslim Indonesia bukan tanpa dasar.
Al ‘Alamah Jamal al Qomath berkomentar mengamalkan hal yang demikian sebenarnya lebih utama, karena tidak bertentangan dengan ushul syariah(dasar agama) argumentasi ini di amini oleh sayyid Muhammad Bin Ahmad Bin Abdul Barry Al Ahdaly

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat difahami bahwa ritual tahlil dan fida’ yang dilaksanakan oleh kalangan Nahdliyyin memiliki dasar dari Al Qur’an dan Al Hadits dan juga bukan merupakan tindakan bid’ah.

G. Tanggapan atas beberapa dalil

Sebenarnya ada beberapa ayat yang kelihatannya kontradiksi dengan hujjah-hujjah di atas, namun perlu adanya kajian yang mendalam sehingga ayat-ayat yang kelihatannya kontradiksi tersebut menjadi selaras dengan pemahaman pembenaran atas sampainya pahala amal yang dihadiahkan kepada orang yang beriman yang telah meninggal. Biasanya ayat tersebut dipergunakan oleh orang non NU untuk mengkaim ritual NU sebagai tindakan TBC (tahayul, bid’ah dan churofat). Ayat-ayat tersebut adalah.
“ Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”(QS. An Najm ayat 39)
Jika dilihat secara tekstual ayat diatas mengandung arti bahwa manusia hanya memperoleh pahala amal kebaikan yang dilakukannya sendiri. Tidak mungkin mendapatkan balasan amal kebaikan orang lain. Pemahaman ini bertabrakan dengan pemahaman bahwa amal kebaikan bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Dari sini mari kita menelaah pemaparan syeh Sulaiman bin Umar al Ajily mengenai kisah Ibnu Abbas, seorang sahabat yang sewaktu kecil mendapat doa langsung dari Rasulullah
“Ya Allah !berilah ia (Ibnu Abbas) pengetahuan dalam agama dan berilah ia di pengetahuan tentang ta’wil” (HR. Ahmad)
Beliau menjelaskan, esensi firman Allah swt. Dalam surah An Najm ayat 39 telah direvisi. (di nasech) oleh firman Allah dalam surah At Thur ayat 21 yang menjelaskan bahwa seseorang bisa menerima kebaikan amal perbuatan yang dilakukan orang tua dan para leluhur mereka. Ayat tersebut adalah:
"Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya."
Lebih lanjut beliau menjelaskan korelasi hukum didalam surah An Najm ayat 39 di atas hanya berlaku pada masanya Nabi Musa dan Nabi Ibrahim saja, bukan pada era umat Muhammad saw. Pendapat serupa juga dikomentari oleh sahabat “Ikrimah , bahwa umat Muhammad saw akan mendapatkan manfaat kebaikan amal kebaikan yang dilakukannya sendiri maupun perbuatan orang lain yang dihadiahkan untuknya termasuk anak dan cucu bisa masuk surga lantaran kebaikan yang dilakukan orang tua mereka.